Tujuh Tiang Kayu Topang Rumah Turin Yang Sudah Renta dan Miring

Lampung Tengah: lampung visual.com-
Bertahan ditengah terpaan kebutuhan hidup, Turin (59) Tetap bersyukur diberikan tuhan kesehatan. Meski 7 tiang Penyangga yang hanya mampu menahan kemiringan rumahnya.

Puluhan tahun silam tinggalkan Kampung Kalirejo, Kecamatan Kalirejo, Lampung tengah, bersama anak istri mengadu nasib di Kampung orang, ternyata belum mampu mengubah nasib Turin seperti yang dia angan-angannya.

Hingga saat ini hidup Turin yang tinggal menetap di Dusun Bumi Mertani Kampung Negara Aji Tua, Kecamatan Anak Tuha Kabupaten setempat. Menumpang di tanah warga yang berbaik hati kepadanya.
Semenjak pindah dari Kalirejo, turin mengaku sudah 3 kali berpindah rumah. Karena tanah tempat nya tinggal milik orang lain. Dikarunia 7 orang anak, Turin tidak pernah mengeluh walau hanya mengandalkan hidup menjadi buruh serabutan dan lelesan singkong.

“Pendapatan tidak jelas. Kalau nasib masih bagus bisa dapat satu kuintal (100 kg) paling sedikit ya 50 kg. Kalau yang tidak dapat lelesan ya itu sudah biasa, ya gimana tidak ada orang yang nyabut singkong,”ucap Turin saat dikonfirmasi terkait dengan kegiatan nya sehari-hari, Minggu (01/12/19).

Namanya ngeleles di kebun orang, sambutan pemilik kebun juga bervariasi. Sering juga di marah dan di usir orang, Itu biasa, “Karena masih nyabut singkong. Bahkan pernah walaupun sudah selesai cabut singkong itu tetap tidak dibolehkan ngleles, ya terpaksa kita harus berbesar hati. Karena itu bukan kebun kita,”kisah Turin.

Kemarau dan murahnya harga singkong sangat berdampak bagi Turin dan rekan seprofesi. Karena tidak memiliki lahan untuk bertani, Membuat Turin dan teman-teman nya harus melancong sampai Lampung utara. Itu pun terkadang nihil tidak ketemu yang nyabut singkong.

“Kalau mau ngeleles dikasih tau sama teman dan kadang kadang ya keluyuran sendiri. Kadang sampe Kampung Pagar Gading Lampung Utara. Sekali berangkat ngeleles dapat duit 30 ribu, bensin 10 ribu sisanya nya itulah yang untuk kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya tidak cukup tapi mau bilang apa mas,”terang Turin.

Bermodalkan motor butut yang masih kredit, yang sudah satu tahun lebih belum lunas. Motor tersebut pemberian Pur seorang teman yang berbaik hati. Karena melihat hendak mencari nafkah untuk keluarga tapi tidak memiliki kendaraan. Sedangkan jangkau yang harus ditempuh tidaklah dekat.

“Untung ada motor butut, itu juga kredit sudah satu tahun belum lunas. Pernah mau saya jual karena gak enak hati, tapi malah sama yang punya tidak boleh dijual. Katanya saya mau kerja pake apa,”pungkas Turin.

Mau minta bantu anak Turin enggan, Karena nasib ketujuh anaknya belum ada yang beruntung. Tanah yang ditempati milik orang juga, Turin bukan tidak punya niat ingin membeli tanah untuk rumah. Tapi mau dibilang apa kerjaan cuma tukang leles. Ada untuk makan pun sudah untung.

“Rumah tua ini saya beli jadi sewaktu saya pindah dari Kalirejo. Ini sudah tiga kali pindah, karena tanah mau di jual kita disuruh beli tidak punya uang ya terpaksa kita gotong rumah ini,”tandanya.

Untuk penerangan rumah Turin masih menumpang sama tetangga. 45 Ribu Rupiah setiap bulan,” Habis mau pasang listrik gak punya duit, Saya dengar ada di dusun Banyuwangi yang mendapat pemasangan listrik gratis, tapi kok di kampung aji tua gak ada.

“Kadang miris kalau hidup penuh kekurangan seperti Turin, tapi ia tetap bersyukur masih diberikan tuhan kesehatan. Dan selama ini ia tidak mau membebani anak-anaknya apalagi dalam hal materi.

“Kadang dibantu walau tidak banyak, saya tidak pernah mengharuskan mendengar mereka sehat saja saya sudah senang mas. Walaupun sedikit saya masih mampu berusaha, apapun keadaan saat ini saya dan istri tetap bersyukur selalu diberi allah kesehatan,”tutup Turin.
Penulis: (iswan/andri)
Editor: Basri.

:Views: 8,551 , Dilihat Hari ini 2 kali

Bila Berkenan Tolong Bagikan