(Gita Rahma Putri, mahasiswi semester II S1 PAUD FKIP Unila, relawan milenial Pejuang Bravo Lima Lampung: "Untuk temen-temen milenial dihindarin dulu untuk kumpul-kumpulnya ya, nongki-nongkinya. Stay safe di rumah. Harus dilakuin yang namanya silaturahmi online. Biar kita dan keluarga kita dan tentunya semua masyarakat di seluruh dunia ini tetep aman." | dok. PBL)

Silaturahmi Online, Lebaran Tetap Seru

BANDAR LAMPUNG PROFIL & SOSOK

Bandar Lampung, lampung visual.com-
Untuk pertama kali, umat Muslim sedunia menjalani Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah yang di Indonesia jatuh pada Minggu (24/5/2020), dalam situasi tak biasa, darurat pandemi.

Virus penyerang saluran pernapasan manusia –beberapa kasus ditemukan pula binatang, COVID-19 pun memaksa siapapun dimanapun untuk membatasi aktivitas fisik, melindungi diri sendiri dari gelegar pagebluk yang bikin seisi planet bumi ini dirundung kahar.

Setelah berpuasa Ramadan satu bulan lamanya, tiba jua hari raya, nun dengan tetap berlakunya protokol kesehatan yang tak jauh beda. Ketat dan terukur.

Di Indonesia, pemerintah menetapkan pelaksanaan shalat sunah Idul Fitri, di rumah saja. Senada ketentuan berlaku sebelumnya, salat Jum’at dan Tarawih juga, di rumah saja.

Ada yang ingat satu dalil fikih berbunyi “menolak bahaya lebih utama daripada mengejar pahala”?

Dari berbagai sumber, dalil yang kontekstual di tengah pandemi ini, mengambil arti harafiah lafadz berikut.

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَلِحِ

Secara transliterasi, Dar’ul Mafsidi Awla Min Jalbil-Masholihi, yang artinya “Menghilangkan kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemaslahatan.”

Kita cuplik satu misal, memperjelas kesahihan kaidah dalil ini. Yakni, kisah seorang Arab keturunan Badui (A’rabiy) saat menemui Rasulullah Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia, yang tetiba saja buang air kecil di dalam masjid. Tanpa permisi.

Para sahabat bermaksud hentikannya. Rasul menghalau, ia mencegahnya. “Biarkan saja dia sampai selesai, dan jangan kalian memutus (kencing)-nya!” seru Rasul, lantas meminta setimba air, menyiram tempat bekas kencingnya.

Teladan Rasul, menurut Hadist Riwayat Muslim (HR Muslim 284) ini, bisa kita tarik simpul bahwa Rasul lebih memilih mudharat (kerugian) yang lebih ringan.

Apa pasal? Jika saja orang yang pipis sembarangan itu dihardik, dihentikan, air seninya akan berceceran di masjid. Akan jadi mafsadat (kerusakan) yang lebih besar.

Sebab itu, Rasulullah meninggalkan mafsadat itu dengan cara membiarkan mafsadat yang lebih ringan. Yang pipis di masjid dibiarkan sampai selesai dan cukup di tempat yang dikencingi saja.

Kisah inspiratif Rasul tadi, ditemalikan dengan “kengototan” pemerintah yang memutuskan salat sunah Idul Fitri di rumah demi mencegah dan memutus rantai penyebaran dan penularan virus corona, cukup relevan.

Jangan sampai, kerumunan kita salat Ied di masjid, lapangan kompleks, atau stadion, meski sudah ditolong protokol jaga jarak fisik atau physical distancing dan pakai masker nonmedis pelindung pernapasan, mengandung potensi jadi medium penularan baru. Klaster baru.

Apalagi, pemerintah sejak awal telah mewanti-wanti, yang paling bahaya (tersulit dideteksi) justru kelompok orang tanpa gejala atau OTG. Segar bugar, ternyata ada corona ditubuhnya.

Dari itulah, sebagai pencegahan, jauh hari kencang sosialisasi penjuru lini, setelah Tarawih di rumah, tidak mudik, bayar zakat dan salat Id juga di rumah. Cara atau tutorialnya ada banyak pula.

Terus, bagaimana dengan tradisi kita bersilaturahmi, dan bermaaf-maafan, tradisi mulia hari pertama dari bulan ke-10 (Syawal) kalender Hijriah ini?

Anjuran pemerintah sama saja. Kita diminta bersilaturahmi Lebaran dari rumah saja. Silaturahmi daring (online), dengan memanfaatkan bejibun jejaring aplikasi media sosial dan komunikasi virtual teknologi digital abad ini.

Terkait, unggahan akun ofisial media sosial Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyebut, memang akan ada yang berbeda di Lebaran tahun ini dari tahun sebelumnya.

“Tapi bukan berarti kita ga bisa menyambut hari kemenangan dengan suka cita. Walaupun ga mudik #SobatKom tetap bisa silaturahmi online bersama keluarga tercinta,” tulis akun Kemkominfo, Sabtu (23/5/2020).

Yang penting salam tempelnya tetap ada, tapi ditransfer aja ya. Pesannya pula, salah satunya, menerakan tanda pagar #silaturahmionline.

Duh, mana aci, gak asyik Bro, dan semacamnya, spontan kita bereaksi. Lebaran ya Lebaran, sungkem ramean, cium tangan, makan ketupat sayur, opor ayam, rendang, segubal barengan. Atau, borongan. Hahaha.

Ya, mau gimana lagi, itulah jalan bijak cara terbaik. Sekali lagi, ini masa sulit wabah penyakit pandemik global di seluruh planet Bumi, yang belum ada satu negara canggih sekalipun yang miliki obat penyembuhnya. Baru klaim.

Apakah kamu mau, seusai menerima tamu, misalnya, kakek dan nenek kita beberapa waktu kemudian timbul gejala dekat corona, dan usai hilir mudik dites rumah sakit dinyatakan positif terjangkit COVID-19?

Menyesal selalu ada belakangan.

Nah masih seputar silaturahmi online ini, langsung saja, ada Gita Rahma Putri (20), warga Jl HOS Cokroaminoto, Enggal, Bandarlampung, urun suara.

Dara hijabers kelahiran 20 Juli 2000 ini berpendapat, keputusan pemerintah dan juga Majelis Ulama Indonesia meniadakan salat Ied berjamaah di masjid, di masa pandemi cukup tepat.

Diwawancarai singkat, saat rehat usai ia mengikuti kegiatan kemanusiaan berbagi nasi kotak siap santap menu buka puasa dan paket sembako donasi program Ramadan Peduli Ramadan Berbagi 1441 H/2020, taja bareng Dewan Pimpinan Daerah PBL (Pejuang Bravo Lima) Lampung dan donatur jejaring, di ruangan Dr Andi Desfiandi MA, Ketua Yayasan Alfian Husin, kompleks kampus biru IIB Darmajaya, Kedaton, Bandarlampung, pada Senin (1/5/2020) petang, mantap Gita bilang,
silaturahmi online jadi kunci jawaban.

Ditanya pesannya untuk anak muda dan generasi milenial Lampung, yang seharusnya dilakukan, apalagi di bulan suci Ramadan di masa pandemi dalam situasi serba sulit, dan ruang gerak kita serba terbatas, awal ia setengah grogi.

Apa yang harus anak muda lakukan memberikan yang terbaik minimal untuk diri sendiri dan keluarga? “Hal yang harus kita lakuin sebagai milenial, tentunya kan karena ruang terbatas ya,” sambar penyuka olah raga basket dan softball itu.

“Jadi hal yang kita lakuin di rumah itu mulai dari…, nanti dulu, mikir dulu sih Om, mikir dulu. Di-pause dulu bisa gak sih,” pintanya lucu. Grogi, ia meminta alat perekam diputar ulang.

Bakso-mania dan nasi Padang itu pun bersetuju atas cegah dini terjangkit pandemi dengan pandu praktik baik jaga jarak sosial/fisik, sebisa mungkin menghindari berkerumun, serta belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah.

Sejurus kemudian, menohok rupa cara serupa bagaimana ia mewakili suara milenial menyiasati segala macam keterbatasan –di satu sisi harus ketat protokol, tidak berkerumun dalam jumlah banyak– dalam menghadapi datangnya Lebaran, 1 Syawal 1441 H yang telah diputuskan Sidang Isbat Kementerian Agama dan Alim Ulama, jatuh Minggu (24/5/2020), di sisi lain?

“Menurut aku pribadi sih, kita bisa ngelakuin silaturahmi online ya?” sahut Gita, mahasiswi Semester Dua Jurusan S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) FKIP Universitas Lampung (Unila) ini.

Melalui apa? “Dengan caranya, bisa mungkin kalau misalkan untuk sesama teman, WA (WhatsApp) bisa, video call, terus lewat Facebook, Instagram segala macem,” imbuhnya.

Gita sendiri, selama stay tune untuk stay safe at home selama pandemi, aktif menggunakan akun Instagram @gitarhm.p dan Twitter @gitarahma25 miliknya, sebagai media komunikasi.

Cara untuk silaturahmi ramean? “Kalau untuk, mau yang konteksnya besar, kita bisa pake Zoom gitu. Udah sama temen-temen, ya. Atau sekedar kayak salam-salam, kayak kangen-kangenan sama temen kan bisa tuh,” tangkapnya pula.

Kira-kira Gita bakal lakuin pas Idul Fitri nanti, mengingat faktor teknis seperti akses internet, sulit tidak, kan ada juga teman yang gaptek (gagap teknologi)?

“Harus dibisain sih, karena kan kita harus naatin peraturan pemerintah, ya, untuk tetap di rumah aja. Jadi menurut saya sih harus dilakuin dan harus bisa,” tandas dara yang mengaku gemar pula melakukan hal-hal baru, selain baca novel, dan mendengarkan musik ini.

Mempertegas, ia yang juga pandai memainkan alat musik tradisional Gamolan Lampung itu memungkasi dengan pesan pentingnya silaturahmi online saat merayakan hari raya nanti, jika kamu sayang banget sama diri sendiri dan keluarga serta semua.

Pesan Gita? “Oke, untuk temen-temen milenial, dihindarin dulu untuk kumpul-kumpulnya ya, nongki-nongkinya. Stay safe di rumah. Dan harus dilakuin yang namanya silaturahmi online. Biar kita dan keluarga kita dan tentunya semua masyarakat di seluruh dunia ini tetep aman,” bijaknya.

Tetapi bagaimana misalnya, kalau seandainya terpaksa harus bertemu fisik? “Tetap jaga jarak sosial. Mungkin nggak berjabat tangan ya,” pungkas ia.

Jadi, Lebaran tanpa kopdar, kopi darat, apa rasanya? “Loh, pacaran jarak jauh, kuliah jarak jauh, rapat jarak jauh, reuni jarak jauh, bisa. Merayakan Lebaran di situasi begini, masak laju maksa harus jarak dekat? Hayo,” cecar balik Yeni Mai Nurafni, perantau Lampung karena ikut suami di Padang, Sumatera Barat.

Lewat panggilan video, ibu satu putra sarjana ekonomi jebolan STIE (kini IIB) Darmajaya ini sependapat, gereget silaturahmi online sama muatannya jika dibandingkan dengan jumpa darat.

“Jangan memaksakan diri. Sayangilah keluarga kito. Ucapin rame-rame pakai videokonferensi rancak jugo. Apo kaba di Lampung, salam yo. Salamaik Iedul Fitri,” ucapnya, Sabtu petang.

Nah, bagaimana menurut pembaca? Setuju bukan, berlebaran tetap seru, cukup dengan silaturahmi online saja? Selamat Idul Fitri. [red/Muzzamil]

:Views: 1,703 , dilihat Hari ini 6 kali

Bila Berkenan Tolong Bagikan