Home / KATEGORI / OPINI DAN PUISI / Serba Kopi Ala #BupatiKopi
( #BupatiKopi, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, juru kampanye tagline "Indonesia Negeriku, Lampung Barat Kopiku!". Facebook | Parosil Mabsus)

Serba Kopi Ala #BupatiKopi

Oleh: Muzzamil
(peminum kopi sejak 1993)

Pengantar

Meneladani warisan mendiang kedua orang tua, untuk selalu bersemangat berterima kasih atas kepercayaan dan pemberian orang lain, kepada saya.

Karena kebaikan itu menular, dengan segenap kerendahan hati saya lukis ekspresikan disini. Besar harapan, semoga bermanfaat.

Petang itu, bersamaan momentum 22 tahun tragedi kejatuhan Orde Baru –ditandai pernyataan mundur Presiden Soeharto 21 Mei 1998, beberapa menit jelang buka puasa hari ke-27 Ramadhan 1441 Hijriah tiba, satu pesan singkat kejutan masuk ke ponsel saya.

Pengirim pesan pukul 17.48 WIB itu, Kamis 21 Mei 2020, sebelas hari lalu, sebut nama, bermaksud menemui saya untuk menyampaikan sesuatu.

Mendengar ia dari Lampung Barat, lengkap alamat berikut lokasi akurat, saya tuliskan balasan cepat.

Bergegas mandi, sembari (ulah) penasaran saat itu pun saya sempat terpikir sekelebat, tanpa firasat, pasti ini sebuah amanat.

Usai si pengantar paket ditemani juga seorang rekannya, saya kenal nama dan bersua keduanya pun baru saat itu, membatalkan puasanya di seputaran Elephant Park, sepelemparan kerikil dari Tugu Adipura (Bundaran Gajah) Enggal, Bandar Lampung.

(sang pengantar masih menyebutnya Pasar Seni di telepon)

Kami pun bertemu, di halaman rumah kontrakanku, Aisha Aulia Danastri Fitriani, bungsuku yang bawel itu larut, SKSD, sok kenal sok dekat menyambut –Om Wendy ya?, salah sebut nama pula ia menyapa tamuku, bhahaha..

Paket mungil kejutan itu pun bergerak ke tanganku. Tak lama, dua berlalu, usai ucapan terima kasihku, beberapa.

Paket mungil apa? Tak jauh-jauh dari latar pengirimnya, ternyata.

Beberapa bungkus kopi fine robusta brand lokal, gula aren semut, sebotol madu hutan, dan, terakhir yang relatif bikin kuberdecak sayang ulah tak bisa kugunakan kurun dekat karena kutak lagi punya, parfum mobil aroma kopi.

Dasar, Bupati Kopi. Gerutu hatiku. Eits, tapi itu gerutuan tulus. Buat Pakcik, Parosil Mabsus. Pengirim itu.

Seisi rumah heboh, lepas buka puasa. Amalia Fitriani, nyonya rumah masih ber-telekung, sipu senyumnya menikung. Hehe, bus AKDP kalee.. Si Abang, Azka Aulia Dyandra Prakasa, ikut nimbrung. Juara kontes lego ini senyum memanggung.

Seumur jagung, eh, seumur hidup, baru ini kepala keluarga mereka dibingkisi (atas nama pribadi) tokoh publik. Pimpinan daerah, pemimpin politik.

Sang pengirim, hari ini, ia bupati cum Ketua DPC PDI Perjuangan Lampung Barat. Namun saya mohon jangan lihat bupatinya, atau musabab dia ketua partai. Tapi tengoklah isi dompet, eh, bingkisannya. Paling penting, pesan moralnya. Selain, aroma nyala kopinya.

Belakangan, dari kala-kala senggang aku mengintip sedu-sedan ancur-ancuran hulu ke hilir bisnis kopi dan perkopian Tanah Air tercinta, utamanya di Bumi Lampung khususnya Lampung Barat si empunya robusta kualitas paripurna, tercium pula sengat pandemi di sana.

Ya, suka tidak suka, mau tidak mau, kegagahan perkopian harus diakui ikut terhenyak terdampak, merunduk, terserang imbas ganas pagebluk.

Tak peduli peladang kopi bertopi kupluk, pengepul biji kopi siang-malam kejar target sampai terbatuk-batuk, pengojek kopi uber setoran hingga ter seradak-seruduk, penyuluh kopi aktif nge-WA anggota kelompok tani sampai mengantuk, penyangrai kopi deras berkeringat tanpa seka handuk, pengurus BUMDes dan koperasi kopi sampai berkorban lupa mandi badan kurang terurus, penjual kopi online mukanya sampai tirus, penjaja kedai kopi nasibnya tak terendus, kafe kopi tak buka-buka panen debu halus-halus.

Tak peduli.

Semua digebuk. Edan ini pagebluk. Ya, ini pandemi. Global, lagi. Sedikitnya, terkini, sudah sekitar empat juta orang (maaf) ambruk. Konon, di 215 negara terjangkit COVID-19, nama pagebluk.

Boro-boro terpikir mudik, eh, ekspor, dengan PCR atau ventilator, nama besar kopi, juga robusta, sebut saja kopi robusta Lampung Barat, tetiba jadi kalah pamor.

Asal saja bukan dengan, Demi Moore. Hehehe..

Weits, bentar. Tapi Demi Moore doyan ngopi juga lho. Janda Aston Kutcher itu kabarnya suka he-eh aja tiap diajak ngopi bareng pas hang out ama Leo, iya si Leo, itu Leonardo DiCaprio, pas pedekate. Walau kemudian bubaran. Cerita lama ini mah, 2012 silam. Hehe..

Bagi saya, yang sekadar penyeruput berat tiga cangkir sehari, memandang imbas sosial ekonomi pandemi bagi masyarakat perkopian ini, pertama sekali bagi petani kopi, bukan enteng.

Berat melukiskan. Sepengetahuan awam saya, petani kopi Lampung Barat bukanlah mereka yang pagi buta pergi ke kebun bawa alat, bekal, dan segulung tikar.

Saya turut yakin, mereka orang-orang -seperti tagline kabupaten yang menera sahaja kata– hebat, walaupun juga ada yang perawakannya kecil namun kekar, dan tetiba harus ikut saya dengar, hari-hari masa sulit ini kehidupan ekonomi mereka ikut tepar, terpapar.

Saya termasuk yang coba bermunajat pada penguasa makhluk penghapus segala sukar, Yang Maha Kuasa, agar mereka saudara-saudara kita petani kopi Lampung Barat, tak laju melaju, gulung tikar.

Saya yakini, mereka kuat. Dari jauh saya melihat, mereka rakyat bersama pemerintah daerah setempat, ligat.

Enggan larut merugi, ancaman krisis stok pangan berkepanjangan imbas pandemi mereka pagari ketahanan pangan, dibentengi jumput strategi.

Pakcik, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus a.k.a BupatiPM a.k.a Bupati Kopi, kebetulan, anak petani kopi.

Sang kakak, bupati pendahulunya, wakil bupati satu periode, bupati dua periode, kini tengah emban amanat sebagai anggota DPR/MPR 2019-2024 daerah pemilihan Lampung I delapan penjuru pintu aspirasi Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Lampung Barat, Pesisir Barat, dan Metro.

Tidak lepas dari urusan kopi, kini juga menjabat Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Lampung, Mukhlis Basri.

Nama terakhir, sempat viral saat ia promo produk olahan kopi asal tanah kampung halaman, berbagi kopi bubuk produk UMKM Lampung Barat, ke para kompatriotnya dan mitra kerja Komisi I DPR, di sela rapat dengar pendapat, sekira beberapa bulan lewat.

Seperti luas diketahui, kedua nama ini sungguh bangga jadi anak petani kopi.

Seperti Dilan mengejar cintanya, upaya kuat kakak-beradik ini gelorakan cita rasa kopi Lampung Barat, ke kancah nasional, dari jauh pun bikin jibaku prosesnya terlihat tak melulu, berat.

Kerja-kerja memajukan kesejahteraan umum, sudut lain dibarengi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, bak ringan kaki. Senada lain pendapat, ulah dikerjakan setotal-totalnya dari hati, perkuatan rancang bangun pemajuan perkopian setempat, terus beragregat.

Tulisan amburadul saya ini bukan demi menggiring opini pembaca lho ya? Tapi berangkat dari mahfum bin kagum diri, lantaran kerja-kerja raksasa itu sejati dipreteli, diurai benang kusut, disemai terurai bingkai tajuk dan daftar isian masalahnya, dan susah payah deret solusinya, dieksekusi!

Gaulnya, pecah di kepala, pecah di mulut, pecah di perut, pecah di kaki.

Masih ingat sekolah kopi?

Selain, festival kopi, baik secara sederhana atau pun ‘mbulet’ bicara kompleksitas problematik kopi dan perkopian sana, program vokasi industri berbasiskan kearifan lokal ini terkesan masih jauh dari kata ideal.

Termasuk, eskalasi pembumian proses hilirisasi industri hingga dongkrak mati kran masuk produk sejenis kompetitor luar negeri agar kopi robusta Lampung Barat tetap bisa kuasa berkedalaman jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bukan mudah. Tetapi ingat, kuat niat, bulat tekad dan menyengat semangat, adalah bagian kata kunci.

Tahun-tahun mendatang, kala bangkit usai ruyak riak droplet dan hiruk-pikuk pandemi terbesar dunia abad ini kelak putus siklus, kesegeraan pembalikan sekutu piramidanya secara minimalis telah termodali.

Tentu beda, dinamika situasinya dengan belahan sudut lain yang tanpa berbekal senjata legal, seperti mereka. Kita bisa buktikan sama-sama nanti.

Prediksi saya, akan ada jinjit revolusi kembali. Pengalaman guru berharga.

Jutaan hikmah, pelajaran penting masa jaya ‘Rumah Kita’ selama landa musim pagebluk mikromilimeter COVID-19 hingga sejauh ini, bakal jadi bekal mahal merevitalisasi segala sesuatu hal penuntasan tata kelola perkopian ini. Lokal sampai internasional.

Bicara Revolusi Industri 4.0 misal, yang mulanya gigantic mendisrupsi, hari ini justru masuk bagian yang tak luput dalam derajat tertentu, ikut terdisrupsi.

Karantina wilayah sukses memblokade keberlangsungan kedai juga gerai. Modalitas brand awareness setengah laku setengah lunglai. Keberuntungan ada di mereka yang terus setia dengan strategi kawin campur proksimitas rantai pasok, manajemen krisis dan integrated marketing activity.

Bicara siklus budidaya, kendati rerata petani kopi antero negeri dilarung panen raya, imbas ekonomi pandemi tak urung juga bikin pusing kepala.

Tak perlu tujuh keliling, sebab interupsi sesaat rantai pasok, ikut bikin petani kopi ‘tekanjat’ terperosok.

Sekali lagi, tempaan zaman, para petani kopi termasuk Lampung Barat, bukanlah mereka yang relatif berpuas diri, mematung di zona nyaman.

Bukan pepesan kosong, tertolong pula endorsement politik, mereka bergeliat, dahaga teknologi haus inovasi, makin kesini makin kaya hasil cukup baik.

Menyandang predikat pemilik tanah subur makmur kabupaten penghasil kopi robusta terbesar di Lampung, corak produksi tanam kopi, gerak maju penetrasi segala macam teknologi, hingga relatif konsistennya persistensi kepemilikan norma usang tak lekang AKU BANGGA JADI PETANI KOPI.

Lampung Barat sadar itu. Hulu ke hilir, telah jamak sentuhan. Saat ini tinggal lagi, sentuhan akhir. Finishing touch.

Dengan apa? Konsistensi, kesetiaan.

Pertama. Kesetiaan untuk senantiasa terhubung (connected), sepenuh-penuhnya.

Bukan lagi hanya sebatas antar jejaring penta heliks, pemerintah sebagai political power, komunitas masyarakat sebagai social power, komunitas iptek dan sains atau akademik sebagai knowledge power, komunitas bisnis sebagai economic power, dan media sebagai announcer power, saja.

Namun saya kira sudah saatnya pula untuk didorong dari tingkat tapak, pemenuhan kebutuhan perluasan tindakan pengembangan jejaringnya, berbasis klasterisasi, agar greget keluarannya lebih nampak berdampak. Best output, very well outcome.

Melibatkan seluas-luasnya pertama itu penggandrung kopi. Sedunia. Berikut, jejaring inovasi dan inventor. Tentunya selain, jejaring eksportir-importir, juga investor. Hehe.

Dalam benak, saya tak cukup puas hanya dapat membayangkan betapa enak, kolaborasi pemda, masyarakat tani kopi, periset, pebisnis mulai dari ultramikro sampai Ultraman (hehe..), awak media hingga ‘jurnalis kopi’, klub barista, jurkam Ayo Ngopi, perajin daur ulang kulit kopi, pengurus BUMDes dan koperasi petani kopi, sociopreneur, start-up, jejaring kelompok budidaya kopi antar daerah Nusantara, jejaring modal, pemasar, edutraveling-pewisata kopi, jejaring circular economy, dan sebagainya, saling berbagi saling menggenapi, menyibak segenap bentang kendala (bottleneck) tata laksana tata kelola perkopiannya.

Penuh cermat, mengeksekusi yang jadi kesepahaman bersama, tetap dengan junjung transportasi, eh, transparansi.

Berat di ongkos? PAD terbatas? Ini bukan lagi zaman kuda gigit besi, ini sudah zaman money follow program.

Hebatnya Lampung Barat Hebat-visi berat hingga butuh kerja hebat demi mewujudkannya meski sadar bukan proses kilat, ada #BupatiKopi yang bekerja dari hati dan nyata terlihat (bukan pencitraan) ogah kerja lambat.

Tetapi ingat, sang bupati dan petani kopi mustahil sendirian bercucuran keringat. Mereka, bukan malaikat.

Butuh juga, kerja-kerja perkuatan (minimal) ekstra jejaring sama hebat, atau mungkin justru tak kalah hebat. Sebut saja, jejaring penta heliks plus, misalnya. Jejaring berjejaring, kerabat berkerabat. Bukan Spiderman tapi lho..

Pertanyaan kritisnya, memang sejauh ini singgungan tersebut di atas belum dilakukan? Sudah dong. Bahkan terus, terus, dan jalan terus. Bahasa kopinya, eh, kerennya, due process.

Lha, kalau memang telah dan tengah sengit berproses, mengapa pula mesti dikupas ulas? Hmm, kasih tau nggak ya?

Yang jelas gini deh, sekadar mengulas, boleh jadi bagi mereka, #bupatikopi dan petani kopi Bumi Beguai Jejama ini, sama kelas dengan menemukenali praktik baik dan kisah sukses tiga tahap pembudidayaan kopi.

Mulai dari menekuni praktik baik pembenihan, legalisasi benih, pelepasan varietas benih unggulan, penguasaan teknik tepat cara tanam demi beroleh ceri terbaik, olah rasa saat penyemaian, dan pelipatgandaan produktivitas tanaman, peremajaan terpadu dan tata kelola bibit unggulan terutama yang ramah cuaca.

Hingga, menjaga jarak ideal antar batang, menjaga kesuburan lahan, siaga jadi pelopor pelestari teknologi pemupukan ramah lingkungan, mantap menginvestasikan cadangan modal produksi untuk budidaya tumpang sari, memperkaya teknik pengendalian hama dan penyakit, menekan dan memenangkan pertempuran melawan rezim gagal panen, meningkatkan performansi bauran ideal kadar air, hingga tuntas menyelesaikan setiap kendala pasca panen, merujuk skema pengolahan industrialis agrikultur.

Juga, mendorong maju perbukitan produktivitas budidaya, mematenkan tiap inventori, manajerialisasi modal produksi swadiri, sertifikasi, promosi, pembaruan teknologi pengemasan kopi olahan/fermentasi, meliterasikan kisah sukses budidaya, banyak lagi.

Itu bukan cuma-cuma. Bukan gratis. Ada romantika kopi disana. Dari legam panas cuaca, kuyup menggigil, sampai menahan tangis.

Dan, seperti telah mewaris, Lampung Barat hari ini, telah patut menasbihkan diri jadi sentra benih, sentra budidaya, pemuliaan dan sortasi, sentra riset dan sirkulasi termasuk pembiakan masif kebun percontohan varietas unggulan, sentra edukasi, sentra inovasi, sentra wisata dan promosi, serta jurnalisme. Kopi.

Bertani kopi (robusta), bagi seluruh rakyat petani, pekebun Lampung Barat, tak bisa lagi hanya sekadar bertani.

Pemajuan pembangunan perkopian di surga kopi robusta ini, misal kelaziman teknik sambung pucuk menggunakan cabang plagiotrof (mohon dikoreksi jika salah, biasa juga disebut “tak en”), demi menggenjot angka produktivitas, sudah saatnya makin berlari kencang didekatkan dengan barisan sekutu strategis. Hilirisasi industri.

Dengan catatan, tetap wajib berbasis kearifan lokal, tetap dilingkupi spirit utama kemakmuran rakyat dan keadilan sosial, transformasi pelestari pembudidaya kopi seiring gelimang bonus demografi (baca: milenialisasi pembudidayaan kopi, bukan Milea tapi, udah punya Dilan soalnya, hihihi…), plus optimasi mantra digitalisasi, serta penjagaan ultra ketat keseimbangan ekosistem lingkungan.

Kedua, berangkat dari latar spasial, anugerah Ilahi hingga sandang status daerah produsen, atau tepatnya penghasil komoditas kopi terbesar di Lampung (Lampung sendiri kalau tak salah ingat penghasil terbesar kedua nasional atau level kontribusi setara 25 persen, dengan kapasitas produksi rerata 1,5 sampai 4 ton per hektare per tahun).

Serta, capaian historiografis Lampung Barat (13 Mei 2014) jadi salah satu dari tiga daerah di Lampung peraih Sertifikat Indikasi Geografis kopi robusta dengan lokasi Masyarakat Indikasi Geografis (MIG) di Lampung Barat, Way Kanan, dan Tanggamus.

Disamping, urgensi keberlanjutan penjagaan pelestarian kopi sebagai warisan budaya Indonesia secara seloroh faktual, selain tradisi gotong-royong, TVRI, dan sepakbola, kopi juga turut jadi perekat pemersatu bangsa, yang sekaligus langgeng potensi jadi basis subsistensi dan mesin uang bagi perikehidupan rakyat dan negara.

Dari itu, kesetiaan untuk terus-menerus berinovasi adalah jalan cerdas berikutnya.

Ekosistem inovasi terbangun sejauh ini, kuatkan. Pintu jendela ruang inovasi, hebatkan. Senapas titi jala mangkus normalisasi perikehidupan sosial ekonomi berbasis pelandaian kurva pandemi, an sich, inovasi yang makin mem bidadari, kokohkan.

Selain Elon Musk atau Jack Ma, poin inovasi ini, pandemi ini sebaik-baiknya suri teladan. “Setiap ujian pasti ada hikmahnya,” bunyi kutipan penggalan ucapan Pakcik saat Lebaran, persis 1 Syawal 1441 H, pada 24 Mei 2020 lalu, seperti saya simak pula dari pesan terusan kiriman orang dekatnya, Donna Sorenty Moza.

(memisalkan diri, tanpa bermaksud mendramatisasi, contoh hikmahnya bagi saya, saya jadi rajin kembali asyik ngopi tanpa gula, ngirit, hihihi…)

Dari pandemi, kita belajar kilat jadi juru selamat diri sendiri dan orang terdekat, ‘cermat kuota internet’ dan bijaksana merevolusi mental digital.

Dari pandemi, kita berguru cepat soal strategi jitu mengawinkan kesempitan dan kesempatan.

Dari pandemi, kita menjadi amat dekat, bukan saja dengan sanak keluarga dan handai taulan, terlebih dengan Tuhan, tetapi juga dengan clue kedisiplinan.

Berdisiplin berinovasi, dalam banyak studi kasus kisah sukses di belantara planet Bumi, cukup bukti membawa pencerahan, pengayaan, percepatan, pelipatgandaan, perubahan, pemajuan.

Sayang, sepertinya belum ada pihak yang merilis data besaran pengaruh efek pandemi sejalan bauran kebijakan pemerintah memitigasi risiko bencana nasional non alam COVID-19 terhadap tingkat konsumsi minum kopi di Indonesia, sekadar ilustrasi pemisalan.

Secara forecasting, urusan perkopian pascapandemi, tetap akan dibaluti keriaan. Tingginya permintaan pasar, berpeluang besar bagi pembangkitan sistemik kejayaan kopi Nusantara ke depan. Kopi robusta Lampung Barat didalamnya. Allah tidak tidur.

Keterkenalan kadang juga perlu serius dilatih dengan keterkejutan. Sejenak, kita terbelalak ternganga. Meski hati berontak, seperti tradisi orang sedang membunuh sepi saat dalam perjalanan (mengisi TTS? haha..), muaranya kita dirudapaksa asah otak agar sandang predikat tetap bisa dipertahankan.

Secara pribadi, mempertahankan gelar pahlawan keluarga, tetap bisa nikmat ngopi, nafkah keluarga tercukupi, di tengah situasi keterbatasan ruang gerak gegara pandemi.

Dan secara anatomi, mempertahankan daya kapasitas produksi dan optimasi keberlangsungan agroindustri kopi di tengah situasi kemunduran ekonomi imbas pandemi.

Nah, berkesempatan menjadi bagian dari pelaku sejarah masa pandemi, tak ada salahnya bila kita menggerakkan diri membukukan catatan kaki terkait urusan kopi ini plus kiprah inovasi kita.

Mana tahu, satu hari nanti, catatan kaki tadi terpaut jadi bagian referensi sejarah terbaik generasi cucu cicit, dalam proses pergulatan inovasinya berasyik masyuk kelak mengatasi keterkejutan zaman, efek berantai perang bioteknologi, penyempitan, pengurangan signifikan ketersediaan lahan areal tanam, daya dobrak kerusakan ekologi, dan lainnya.

Berharap saat generasi platinum hari ini (saat) mulai menua masa datang, sama sadar, dengan lima generasi hidup bagian kelompok demografi lahir kurun seabad ini, dari generasi tradisionalis rentang lahir 1922-1945 era Great Depression (mula Perang Dunia II, Flu Spanyol 1918-1920) dimana ada sekitar 50 juta jiwa silent generation masih hidup rerata usia 80-an tahun.

Lalu generasi baby boomers berojolan 1946-1964, generasi X lahir 1965-1980, generasi Y atau milenial berakte lahir 1981-1994, dan genre Z (1995-2010).

Serta generasi alpha kini, sekali lagi, sama sadar, bahwa memang benar, kopi tak punya perasaan.

Tetapi, ia kaya cita rasa. Jutaan. Ia tak pernah peduli, tak pernah bisa menolak, siapapun peminumnya, entah Pak Karsa entah Raissa. Eaaa…

“Dan kopi tak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karena dihadapan kopi, kita semua sama.”
(nukilan buku Filosofi Kopi karya Dewi ‘Dee’ Lestari, 2006, filmografi 2015)

Akhir kata, mumpung masih dalam suasana bulan Syawal ini, maaf jikalau ada yang kurang berkenan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.

Ada gula ada semut | baru juga sekali seruput | Kenapa pula termanggut-manggut | kopi Robusta Lampung Barat emang yahud.

Nerima nihan, Pakcik Parosil Mabsus. Ini Lebaran berasa khusus. Bersama kopi #ngopidirumah makin cas cis cus. Terus lawan corona, terus sejahterakan rakyat, terus majukan Lampung Barat!

Bandarlampung, 21 Mei, lanjut 24 Mei, lanjut 30 Mei, tuntas 31 Mei 2020. Salam Kopi. (*)

:Views: 4,408 , dilihat Hari ini 455 kali

Bila Berkenan Tolong Bagikan
error: MAAF \"YA\" COPAS NYA OF DULU.....