Nasib Penulis, Siapa Peduli?

Nasib Penulis, Siapa Peduli?
PROFIL & SOSOK

Oleh: Basri Subur
(Owner Lampung Visual)

MENULIS adalah suatu perjalanan yang penuh liku dan harapan. Setiap kata yang ditulis adalah cerminan dari jiwa yang merindukan perubahan, kebenaran, dan pencapaian impian. Namun, bagi seorang penulis, nasib seringkali tampak sepi, seperti terabaikan dalam kesibukan dunia yang lebih mengutamakan kemewahan materi dan pencapaian instan. “Nasib penulis, siapa peduli?” sering kali menjadi pertanyaan yang melintas dalam pikiran mereka, terutama menjelang hari-hari yang dianggap suci di mana kebahagiaan dan harapan seakan lebih menghampiri mereka yang lebih “terlihat.”

Namun, bagi si penulis, perjalanan itu tidaklah mudah. Mereka tidak menanti dengan harapan yang sama dengan orang lain yang telah meraih kesuksesan dalam bentuk yang nyata. Di balik kata-kata, harapan seringkali menangis, bercampur dengan kegelisahan dan keraguan. Sebuah tulisan bukan hanya sekedar rangkaian kata, tetapi sebuah perjuangan batin yang seringkali diabaikan.

Tidak jarang penulis merasa bahwa suara kebenaran yang mereka tulis tidak dihargai. Sementara dunia terus berjalan dengan kepuasan materialnya, mereka tetap bertahan dengan mimpi yang belum tentu terlihat oleh banyak orang. Dalam kesendirian itu, pena mereka tetap menari, mengguratkan harapan yang tidak akan berhenti meski kadang terasa sepi.

Pena, meskipun kecil, memiliki kekuatan yang luar biasa. Setiap goresannya bisa mengubah dunia—meski tidak selalu dengan cara yang langsung terlihat. Mungkin di dunia ini, hasil tulisan penulis tidak selalu dihargai atau bahkan diakui. Tetapi, kebaikan dari setiap kata yang mereka tulis tidak akan pernah mati. Karena di akhirat kelak, siapa tahu, akan ada hadiah yang lebih nikmat yang menanti. Sebuah hadiah yang tidak bisa diukur dengan uang atau penghargaan duniawi.

Menulis bukan sekadar pekerjaan, namun sebuah panggilan hati. Bagi penulis sejati, dompet yang kosong tidak menghalangi semangat mereka untuk terus berkarya. Hati mereka tetap kaya dengan impian dan harapan. Tulisan mereka bukan hanya sekedar rangkaian kalimat, tetapi sebuah jejak yang akan bertahan sepanjang masa suatu warisan yang kelak dikenang meski tidak terlihat saat ini.

Jadi, meskipun banyak yang tidak peduli dengan nasib penulis, mereka tetap berjalan dengan pena mereka, menulis untuk dunia dan untuk diri mereka sendiri. Dalam ketidakpedulian itu, mereka menemukan kebesaran yang tidak akan pernah pudar. Siapa peduli? Mungkin, hanya mereka yang pernah merasakan sepi dalam kata-kata yang akan memahami. (*)

Loading