KILAS BALIK TIYUH KARTA

Lampung Visual.com-Tiyuh/desa Karta memiliki sejarah yang cukup panjang, sebelumnya  berada di wilayah Lampung Utara, tepatnya sekitar tahun 1978/1979. Terjadinya pemekaran kabupaten kini tiyuh Karta berada di wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Tiyuh ini  terbilang cukup tua, karena berdiri sejak abad ke-13. Konon kabarnya.  tiyuh tersebut sejak zaman dahulu sudah memiliki sistem pemerintahan yang kuat dan  telah dikenal secara luas di provinsi Lampung.(31/3/2017)

Menurut cerita salah satu tokoh Adat Karta, Nurdin Sahrajo atau lebih di kenal Minak Gayo Pikiran saat di konfirmasi oleh Editorial lampungvisual.com, mengungkapkan,  tiyuh Karta berdiri pada abad ke XIII. Tiyuh ini didirikan oleh Kun Tunggal II, yang merupakan cucu dari Putri Bulan. Berdasarkan sejarah turun temurun dari generasi sebelumnya. Tiyuh tersebut awalnya bernama ”Kerto, Layo, Bujung, Tegaguk”. Artinya Kerto itu aman, Layo itu rata, Bujung itu Tanjung, dan Tegaguk adalah sebuah nama dari sejenis kayu hutan.

Pemberian nama ini secara umum didasarkan  pada situasi desa tersebut cukup aman, lokasinya rata sampai ke way terusan. Lalu, terletak dalam lingkaran sebuah tanjung sungai Way Rarem yang penuh ditumbuhi kayu tegaguk. Kemudian, semenjak jaman penjajahan Belanda di Indonesia nama kerto layo bujung tegaguk lama kelamaan disingkat menjadi “Karta”. Nah, itulah awal mula desa tersebut diberi nama desa Karta sampai saat ini. Sedangkan, untuk asal-usul masyarakat desa Karta, menurut garis besarnya, asal-usul masyarakat tersebut dapat dibagi kedalam dua jalur keturunan yaitu; keturunan dari Putri Bulan (Buay Bulan) dan keturunan dari nenek moyang yang datang dari pulau Jawa sekitar tahun 1.500 sampai dengan 1.530 M lampau.

Uniknya, antara kedua jalur keturunan tersebut telah terjadi asimilasi yang begitu sempurna, sehingga dari segi adat istiadat Lampungnya tidak dijumpai adanya perbedaan apapun. Dimana, sejarah pemerintahan desa Karta pada mulanya, rakyat desa bernaung dalam kesatuan masyarakat adat atau masyarakat kebudayaan yang bernama marga. Yaitu Marga Buay Bulan udik yang meliputi Desa Karta, Desa Gunung Katun Tanjung, Desa Gunung Katun Malay, dan Desa Gedung Ratu. Sementara menurut silsilahnya, kebuayan masyarakat Desa Karta  merupakan budaya yang tertua dalam garis kebudayan Putri Bulan. Sehingga desa tersebut ditetapkan sebagai pusat Marga Buay Bulan Udik.

Pada waktu itu, para kepala desa yang memerintah di Desa Karta hampir tidak berfungsi jabatannya. Dimana, tugas yang dilaksanakan sehari-hari hanya terbatas pada hal-hal tertentu saja, seperti pemungutan padi tanjung (salar), pemungutan pajak batu dan memimpin mata gawi (gotong-royong penduduk). Peraturan-peraturan yang berlaku di Desa Karta pada khususnya serta Marga Buay Bulan Udik pada umumnya, berasal dari hasil penetapan musyawarah penyimbang-penyimbang (kepala adat) semua Marga Buay Bulan Udik, yang lazim disebut dengan istilah sidang marga.

Semua bentuk masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat sehari-hari atau kasus-kasus yang terjadi antar penduduk, harus dan selalu dapat diatasi oleh penyimbang adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku kecuali masalah pembunuhan. Untuk hukuman-hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, dengan tegas diatur dalam pasal-pasal ketetapan sidang marga yang diberi judul “ilo-ilo pak, silip walu, cepalu wo belas.”

Sedangkan untuk hukuman bagi kesalahan-kesalahan biasa yang dijatuhkan pada umumnya berupa “denda uang”, yang dalam bahasa adat disebut “urun”. Tetapi apabila kesalaha itu dinilai dapat merusak norma-norma adat maka tersangka dapat dikeluarkan dari kesatuan adat. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan hampir tidak ada masalah yang penyelesaiannya ditangani oleh pemerintah. Hal itu disebabkan karena kekuasaan penerintah Belanda memang belum sepenuhnya menjangkau desa karta. Selain itu, juga disebabkan oleh kesatuan masyarakat adat yang begitu ketat.

Kemudian, baru pada bulan Februari 1929, pemerintah mengangkat seorang putra desa Karta yang bernama Ratu Pengadilan menjadi kepala Marga Buay Bulan Udik, dengan jabatan Pasirah.Pada waktu itu, kepala-kepala desa dalam Marga Buay Bulan Udik , yang sebelumnya tunduk pada Onderafdecling Menggala, berubah menjadi dibawah naungan Pesirah Buay Bulan Udik  langsung.

Selama penjajahan Belanda di Indonesia, yaitu VOC sampai pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, desa karta tidak pernah dimasuki oleh serdadu Belanda yang bersifat serangan peperangan. Bahkan selama terjadinya clash I dan II desa karta telah menjadi pusat kegiatan pemerintahan sipil yang dipimpin Bapak Bupati Lampura A. Akuan, yang saat itu terkenal dengan percetakan uang daruratnya. Desa tersebut juga menjadi staf kegiatan angkatan perang dan kepolisian. Angkatan perang tersebut beranggotakan sekitar 200 orang, yang dipimpin oleh Mayor Sukardi dan Kapten Masad. Dan anggota Kepolisian ada 12 orang yang dikomandanni oleh Bapak Djimin.

Kekuasaan Pasirah berakhir pada tahun 1956, dimana fungsinya digantikan oleh negri, yaitu Negri Tulang Bawang Udik. Negri tersebut tidak lagi beribukota di karta, tetapi disatukan dengan ibukota kecamatan yaitu di Panaragan, dengan wilayah kekuasaan meliputi; ex Marga Tegamoan dan ex Marga Buay Bulan Udik. Namun, kekuasaan kenegrian tersebut berlangsung relatif singkat dan berangsur angsur pudar. Sesuai dengan perkembangan pemerintahan di Indonesia, khususnya di Provinsi Daerah Tingkat I Lampung. Sehingga pada tanggal 29 Januari 1972, oleh Kepala Daerah Tingkat I Lampung (Gubernur) Hi Zainal Abidin Pagar Alam diresmikanlah, Kecamatan Tulangbawang Udik yang ibukotanya di Karta. Sehingga dengan demikian Desa Karta menjadi staf kegiantan instansi/jawatan tingkatan Kecamatan Tulang Bawang Udik.

Hari berganti hari, minggupun berlalu dan bulan berjalan kemajuan tiyuh Karta tak dapat dibendung laksana mat air yng selalu mengalir. Jika kita kilas balik, mungkin hampir tidak percaya  kondisi Karta yang terang-benderang saat ini. Dahulu merupakan wilayah yang hanya diterangi seberkas sinar redup. Lampu sentir,  mungkin sebagai sarana penerang disaat malam hari. Para tetua adat menuturkan, kala itu alat transportasi andalan yang dimiliki warga adalah gerobak sapi atau kerbau. Bahkan bagi mereka yang tidak memiliki alat transportasi tersebut, mereka harus berjalan kaki menuju Kotabumi ataupun Menggala.

Cerita diatas kini hanya tinggal kenangan, karena saat ini tiyuh karta sudah jauh lebih maju dibandingkan tahun sebelumnya. Pembangunan infrastruktur jalan, bangunan dan jembatan juga perekonomian, sudah sempurna.

Gerobak sapi sudah berubah menjadi mesin yang tangguh, berbagai merek telah dimiliki oleh masyarakat Karta. Jalan hotmix telah dilintasi masyarakat, jaringan listrik, PAM, telekomunikasi semua sudah tersedia di tiyuh tersebut.

Berkat kerja keras dan do’a generasi sebelumnya, kini Putra-putri Karta sudah banyak yang sukses. Baik menjadi TNI/Polri, Pejabat Negara, ASN, pengusaha semua memiliki SDM yang handal dan profesional. Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia memang harus digali, agar jati diri daerah dapat terangkat.

Hal inilah yang sudah dilakukan masyarakat tiyuh Karta, dengan demikian Karta sekarang menjadi kota cantik, penuh dengan kemajuan. Belum dapat diketahui secara pasti berapa jumlah sesungguhnya Kepala-Kepala Kampung yang pernah memerintah di Karta semenjak abad ke 13. Namun, dari informasi yg di himpun oleh Editorial lampungvisual.com  berikut daftar nama para kepalo tiyuh kala itu,  mulai dari abat ke 13 sampai tahun 2016 :

  1. Ngediko Jimat ( alm )
  2. Bumi Kul ( alm )
  3. Puting Ratu ( alm )
  4. Minak Susunan ( alm )
  5. Tuan Sumbahan ( alm )
  6. Tuan Rajo ( alm )
  7. Raja Pasirah Alam ( alm )
  8. Raja Asal SG (alm )
  9. Sutan Junjungan ( alm )
  10. Nurhasan Tn. T. Mega
  11. M. Yasid MM.
  12. Syahmin Sutan Seimbang
  13. Muhammad Thoib.
  14. Plt. Kades. Ratu sekurai Sutan bandarajo.
  15. Dahser Lambung
  16. Turunan Mega,
  17. Sudiyaman.

Ditulis Oleh :Jhony/Red

10,913 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Bila Berkenan Tolong Bagikan

About lampung visual.com

Check Also

Koramil 02 Kodim 0735/Surakarta Dikunjungi Paban Sahli Politik Luar Negeri Bid Idpol Sahli Kasad

Surakarta, lampungvisual.com- Koramil 02 Kodim 0735/Surakarta mendapat Kunjungan kerja dari Staf ahli politik luar negeri …

3 comments

  1. Salam Sukses buat tim website: lampungvisual.com-saya Rahma Mahasiswa di Thailand Sebagai warga Tulang Bawang barat, Merasa bangga setelah membaca artikel Kilas Tiyuh Karta, alangkah bagusnya kalau tiyuh lain dimuat seperti ini

  2. mantap smoga tulisan ini bisa dijadikan referensi bagi pembaca, dan usul saya sebaiknya diterbitkan dalam bentuk buku, agar generasi skrg bisa memahami adat budaya tiyuh Karta.

  3. Terima kasih atas semua masukan,saran serta ide yang telah kawan sampaikan,,,,kami bukan yg terbaik tp kami salah satu di antara yg terbaik,,mohon doa dan dukungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pornvids rentalmobilpontianak videobokep18 fullbokep