(Pemilik RM Minang Indah Grup, yang juga Ketua Bidang Pengembangan Usaha DPD PBL Lampung, Junaedi, dalam kesempatan bersilaturahmi dengan Menteri Agama RI yang juga Ketum DPP PBL, Jenderal TNI Purn Fachrul Razi, di Jakarta, Juli 2020. | dokpri)

Inspirasi Junaedi RM Minang Indah: Tamatan SMP, Berbisnis Dari Nol, Kian Moncer Di Tengah Pandemi (4)

PROFIL & SOSOK

LV: BANDARLAMPUNG-
Pada pengujung bagian terdahulu artikel ini, Bang Jun, sapaan pemilik Rumah Makan (RM) Minang Indah Grup Bandarlampung, Junaedi, menceritakan upaya serius dirinya turut mengambil hikmah luar biasa besar dari situasi kahar pandemi COVID-19 yang menyerbu Indonesia sejak Maret 2020.

Terkait imbas buas pandemi corona, Junaedi menginformasikan ada sisi positif bagi proses ekspansi bisnisnya.

Per mandatori, dia kontan dipercaya beberapa kolega bisnis, mengakuisisi usaha mereka yang diterpa ancaman pandemi. Menyusul ada pula yang jauh sebelum pandemi melanda, sepakat berkongsi dengannya. Meski urung.

Soal akuisisi tadi, dari ke-12 cabang saat ini, ada cabang RM merupakan pemodelan akuisisi bisnis kondisional.

Melalui skema penyelamatan matang, Junaedi jadi juru selamat. Skema itu, setali tiga uang dengan skema bisnis anutannya di beberapa cabang yang memang 100 persen aset miliknya.

Yakni, dengan pola bagi hasil berbasis syariah. Tetapi dengan satu syarat, urusan manajemen bisnis usaha pascaakuisisi mutlak jadi hak utuh Junaedi. Alhasil, tanpa ribet, brand Minang Indah, paten jadi perekat.

“Ya, diakuisisi ya, ambil alih sistem pola bagi hasil syariah. Bagi hasil A’,” Junaedi membenarkan, Mei 2020 lalu.

Hasil laba bersih per bulan, adil dibagi terdiri dari 50 persen hak karyawan atau mitra kerja, sementara sisanya –tidak ikut ditulis, menjaga etika bisnis– ada persentase royalti Minang Indah, pemilik Minang Indah, dan mitra usaha yakni empunya tempat atau gedung.

“Adapun manajemen mutlak dipegang Minang Indah,” lugas dia, menegaskan pula yang jadi hak karyawan di masing-masing cabang adalah harga mati, dan sama sekali tak dapat diganggu gugat.

“Kalo karyawan mah, baik yang usaha bermitra, ataupun yang mutlak punya aku, ya tetap, 50 persen hak karyawan,” ucapnya mantap.

Jiwa petarung bisnis, tergodam dari bocoran prinsip bisnis anutannya. Apa itu? Redaksi berhasil menggodanya untuk sekadar mengungkapkannya.

“Ambil keputusan, karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Dah ini aja dulu ya A’,” pungkas dia, terpancing.

Benar saja, dia tak siakan kesempatan baik bertubi hampiri. Ulet berjejaring sosial, bikin dia jauh dari kata sial.

Selain Ketua Bidang Pengembangan Usaha DPD Pejuang Bravo Lima (PBL) Lampung, Junaedi tercatat juga aktif di sejumlah organisasi. Diantaranya jadi Bendahara Umum DPD Himpunan Pengusaha Mikro Dan Kecil Indonesia (Hipmikindo) Lampung. Juga anggota komunitas hobi Pajero One Indonesia Chapter Krakatau Lampung.

Di desa tinggalnya, dia juga aktif jadi bendahara Rukun Kematian “Sadar”, Desa Bumisari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Seiring laju transformasi adaptasi keadaban baru, New Normal, cabang ke-13 Minang Indah di kompleks Baitul Jannah Islamic School, Rajabasa, siap dibuka tak lama lagi.

Cabang ini kongsinya dengan pemilik Baitul Jannah, Sugirianto, yang juga Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Bandarlampung.

Rencana, pembukaan cabang nantinya dirancang bareng dengan peluncuran Wakaf Mart, di samping calon lokasi.

Soal ragam menu RM Minang Indah, pembaca bisa cicip sendiri. Sebab ini soal selera, yang ujar leluhur kita, habis waktu memperdebatkannya. Era pesan antar kuliner daring, mempermudah membunuh rasa penasaran Anda.

Sedang terkait kesan karyawan, akan redaksi ulas lain utas. Poinnya, rerata salut, dan tak sedikit yang mendoakan. Menukil salah satu, “orangnya pekerja keras.” Tercatat, Junaedi membawahi sedikitnya 150-an karyawan saat ini.

Ada satu manajer di tiap satu cabang, kepercayaan jadi basis utama kinerja. Ditambah, kekompakan seluruh lini menjalankan proses manajemen, jadi modal sosial sukses bersama.

Meski saat ini, ayah tercinta, kakak sulung lelaki, kakak kedua perempuan, dan adik bungsunya lelaki, telah tiada.

Namun kesuksesan karir bisnis yang dirintis mati-matian, dari nol, atau dia jujur menyebutnya, “Iya merantau ke Lampung ya ga bawa apa-apa,” makin membuat Junaedi kian kuat merawat ketangguhan.

Penyuka ayam bakar rendang yang konon masih suka kangen Mendoan, kudapan khas kampung halaman, terus ambil formasi hidup tertib. Ikut sauh.

Bukan lagi gelimang materi, dia kaya ikhtiar membahagiakan ibu tersayang, yang memilih tetap tinggal bersama keluarganya di Banyumas.

Ibunya (68), tiga kakak beradik, tinggal bareng salah satu cucunya. Dalam setahun, bisa tiga kali mengunjungi anak cucunya di Natar.

“Nyokap di Wangon, tapi KTP sudah Lampung. Karena daftar haji kan di Lampung, ikut KK (kartu keluarga) saya. Jadi ibu mau, Insha Allah, haji bareng aku dari Lampung,” ujar dia, Selasa (21/7/2020) petang lalu.

Junaedi mengungkap keinginan mulia untuk memberangkatkan ibunya naik haji ini beberapa kali kesempatan.

Sidang Pembaca, tepat kiranya jika kemudian Anda menaruh kesan hingga menemukenali kisah nyata Junaedi ini, from zero to hero, sebuah inspirasi.

Kisah sukses Junaedi berakit ke hulu berenang ke tepian ini miskin pretensi. Potret perjuangan panjangnya nan menahun, demi ‘naik kelas’ ini patut ditaut apresiasi, sekaligus diteladani.

“Jadi dengan adanya Minang Indah di Bandarlampung, bukan karena saya sekolah lama di gedung yang tinggi. Ya, karena mateng di jalan, mateng kerja, sama orang,” ungkap Junaedi, tanpa sesal tak bisa sekolah tinggi, tanpa bermaksud membanggakan diri.

Redaksi sengaja tak meminta pesan. Bagi mereka di luar sana, para pebisnis pemula, atau yang tengah galau berat, ragu mengeksekusi terobosan bisnis, gegara pagebluk, deret pertimbangan menumpuk bla bla bla.

Kisah inspiratif ini –menuliskannya pun kendati tetap obyektif tetap saja hati bergetar, sudah jadi pesan itu sendiri.

Sejumlah pesohor, sebut misal Menteri Agama Fachrul Razi, yang juga Ketum DPP PBL, tak ketinggalan Ketua DPP PBL Bidang Ekonomi Dr Andi Desfiandi, hingga kolega di sejumlah organisasi, ikut salut atas kiprah juang Junaedi.

Apalagi, suksesnya alami meski kuntit hantu pandemi, bikin mereka angkat topi. Mereka berharap, usai sukses tergapai, selain terus bermetamorfose jadi sociopreneur plus econopreneur, dia tetap menjadi Junaedi yang teguh muasal, sederhana, dan bersahaja.

Juga, supel dan humoris (ternyata), bakat motorik Junaedi lainnya. Rancak bana, Bang Jun. Ambo nambo ciek, randiangnyo! [red/Muzzamil]

:Views: 390 , Dilihat Hari ini 2 kali

Bila Berkenan Tolong Bagikan