(Potret kebersamaan pemilik RM Minang Indah Grup Bandarlampung Junaedi, dan para sejawatnya saat pembukaan cabang baru ke-11 RM Minang Indah, Jl Soekarno-Hatta 109 (By Pass) Rajabasa Bandarlampung, 10 Juni 2020 lalu. | dokpri)

Inspirasi Junaedi RM Minang Indah: Tamatan SMP, Berbisnis dari Nol, Kian Moncer Di Tengah Pandemi (3)

PROFIL & SOSOK

LV:BANDARLAMPUNG –
Masih mengulik kisah hidup pejuang keluarga, yang bikin keputusan berani kedua kalinya dalam sejarah perjuangan hidup dan lelaku bisnis, hingga mampu kibarkan panji sendiri, pemilik Rumah Makan (RM) Minang Indah Grup, Junaedi.

Bidik kalender, Jum’at itu, 20 Februari 2009 jadi hari bersejarah Junaedi. 11 tahun silam. Itulah kali pertama RM Minang Indah resmi dibuka, di Jl Raya Batupuru, Merak Batin, Natar, Lampung Selatan. Kini, jadi cabang pertama.

“Awal berdiri MI (Minang Indah, red) 20 Februari 2009. Berarti usiaku (saat itu) memasuki 34 tahun,” ujar dia, melalui aplikasi pesan singkat, pukul 22.25 WIB, Kamis (21/5/2020) malam.

(Salah satu potret aksi kemanusiaan Junaedi, pemilik RM Minang Indah Grup, dan sejawatnya para relawan Pejuang Bravo Lima (PBL) Lampung, berdonasi paket sembako program Ramadan Peduli Ramadan Berbagi 1441 H/2020, rentang Mei 2020. | PBL Lampung)

Dari mana datangnya ide nama Minang Indah? Kapan persisnya? Kenapa pilih Batupuru lokasi pertama? Diberondong demikian, dia enggan lekang ingatan.

“Ya, Minang, karena masakan Padang. Indah, elok aja. Bagus, gitu. Dulu ada dua nama. Selain Minang Indah, pilihannya Goyang Lidah,” dia menguak muasal nama rumah makannya.

Lantas, “Pada akhirnya saya pilih nama Minang Indah,” dia memutar kenangan, tak sadar nama itu hoki bagi karirnya.

Dapat nama itu? “Ya, sebelum buka itu. Kan sambil kerja, saya ngecak (kata gaul [slang] dari mengira-ngira, red) sambil cari-cari nama gitu. Begitu buka sih langsung nama MI,” ujarnya dicecar.

Tahun? “2000-an kayaknya A’. Masih di Bundaran (Rajabasa, di RM Danau Kembar, red) dulu itu,” imbuh dia.

Memperjelas, Junaedi merujuk rentang 5 tahun lebih waktu dia masih bekerja di RM Danau Kembar, dekat Bundaran Rajabasa, Bandarlampung, akhir 1999 hingga 2005. Saat dia telah alih status jadi suami dan ayah satu anak.

Mengungkap dua tahun menanti masa buka usaha pertama, sekaligus incar calon lokasi, Junaedi gayeng. “Dulu naik angkot dari Natar, sepanjang jalan sambil lihat-lihat, ya akhirnya dapet yang di Batupuru itu A’,” imbuh dia lagi.

“Dulu sepertiganya, kecil cuman lebar empat meter sekarang kan ketemunya tiga plong lebar 12 meteran,” detailnya membandingkan kondisi dulu dan kini RM yang tak sedikitpun dia duga bakal jadi cabang pertamanya itu.

Dipuji tajam ingatan, mendadak dia melankolis. “Siyapp.. Karena indah A’. Jadi inget semua. Berakit-rakit ke hulu,” kesannya dalam, tanpa melanjutkan bunyi pepatah sakti itu.

“Saya kerja sama orang Padang 15 tahunan A’.., sampai 2009 yang buka pertama di Batupuru itu.”

Kenapa Batupuru? Ada sejarah tersendiri? “Ya kan, saban hari lewat situ A’. Rumahku di Bumisari. Sering ngetem angkot yang saya naikin di depan RM Minang lndah Batupuru,” ulasnya soal latar pemilihan lokasi.

Pengampu moto “berbuat baik, maka kebaikan akan kembali padanya”, dan juga, “gunakan ilmu yang kita punyai semaksimal mungkin” ini tak pelit jua berbagi kesan. Kesan before and after, dia bagikan.

Sebuah nasihat bijak membekas dari bekas majikannya saat kerja di Pluit, Jakarta Utara, menjadi yang paling berkesan selama belum buka usaha sendiri, baginya.

“Ingat petuah bos pertama kerja dulu di Jakarta. Kejar untuk sukses kita, sebelum usia memasuki angka 50 tahun,” ungkapnya mengutip sang bos. Sayang lupa bertanya namanya.

Termotivasi, Junaedi himpun amunisi. “Jadi selama kerja, yang dipikirkan kapan bisa mandiri atau buka usaha sendiri. Pas shift malam, isi waktu senggangku dengan coretan/ngecak 1 kilogram beras jadi sekian bungkus/porsi. Pun daging, sekilo daging jadi sekian potong dan lain-lain,” tutur dia.

Lalu, yang paling berkesan sesudah bisa buka usaha sendiri? Apesnya, pertanyaan satu ini urung dia jawab.

Pada bagian lain, saat disinggung kiat mempertahankan lini bisnis usahanya selama pandemi masih berlangsung, dia serta-merta menyahut, diskon!

“Kiatnya, kasih diskon untuk pemesanan banyak. Salah satunya untuk baksos di Bravo Lima. Lainnya ya standar, dan sudah menjadi moto Minang Indah. Jaga kualitas masakan, kebersihan rumah makan, dan kualitas pelayanan,” sambar Junaedi.

Asal tahu, selain By Pass Rajabasa, terakhir Gajah Mada, berturut-turut, cabang Minang Indah kini tersebar di sejumlah lokasi dalam kota.

Diluar cabang pertama di Batupuru, cabang kedua Jl Raya Merak Batin, Muara Putih, Natar (samping RS Natar Medika), dan cabang ketiga, Jl Raden Gunawan (dekat BLPP Hajimena), yang masuk wilayah Lampung Selatan.

Runut sesuai saat berdirinya, cabang keempat Jl Pramuka Rajabasa (depan SMPN 2 Bandarlampung), kelima di Jl Cik Ditiro Kemiling. Dan keenam, di Jl Pagar Alam Kedaton (simpang lampu merah Gang PU).

Cabang ke-7, Jl Yos Sudarso (Kunyit) Telukbetung Selatan, kedelapan di Jl Untung Suropati, Labuhanratu Kedaton. Cabang kesembilan di Jl Ratu Dibalau Waykandis, kesepuluh di Jl Agus Salim Kelapa Tiga Tanjungkarang Barat.

Ada satu cabang, merupakan usaha bersama berbasis franchise. Yakni di Jl Pagar Alam (Gang PU), dekat area parkir belakang Universitas Teknokrat Indonesia, antara Masjid Al Hikmah dan Gedung Darmapala, sekretariat DPD PBL Lampung, Gang PU Kedaton.

Diketahui, di cabang tersebut, secara berseloroh ada duet Duo Jun. Junaedi berkongsi dengan anggota DPR/MPR dapil Lampung II asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kini duduk di Komisi XI DPR, Ahmad Junaidi Auly.

Mantan Ketua DPW PKS Lampung era 1999-2004, dan anggota dua periode DPRD Lampung (2004-2014) ini juga akrab disapa Bang Jun. Dia tak lain adik bekas Ketua DPW PAN Lampung, pernah anggota DPRD Lampung, kini Ketua IKA FH Unila Abdullah Fadri Auly.

Terkait imbas buas pandemi corona, Junaedi menginformasikan ada sisi positif bagi proses ekspansi bisnisnya. Ada cabang rumah makan, merupakan pemodelan akuisisi bisnis kondisional.

Yang kurang beruntung berkompetisi, akhirnya secara mutual terselamatkan kelangsungan usahanya dari ambang kebangkrutan, dengan menawarkan mekanisme take over dan atau akuisisi usaha RM-nya kepada Junaedi.

Per mandatori, dia kontan dipercaya beberapa kolega bisnis, mengakuisisi usaha mereka yang diterpa ancaman pandemi. Menyusul ada pula yang jauh sebelum pandemi melanda, sepakat berkongsi dengannya. Meski urung.

Soal akuisisi tadi, dari ke-12 cabang Minang Indah saat ini, ada cabang RM merupakan pemodelan akuisisi bisnis kondisional.

Melalui skema penyelamatan matang, Junaedi jadi sang juru selamat.

Nah, apa saja jurus jitu yang dia hunus demi selamatkan keberlangsungan penghidupan ekonomi bukan saja sejawat bisnis, namun juga karyawan hingga jejaring mereka dari imbas ganas ekonomi pandemi dan nganga jurang krisis serius? Bersambung. [red/Muzzamil]

:Views: 302 , Dilihat Hari ini 2 kali

Bila Berkenan Tolong Bagikan