Sabtu , Desember 15 2018
Breaking News
Home / Lipsus / Opini dan Puisi / Tubaba : Permasalahannya Bukan Salah Satu Yang Benar

Tubaba : Permasalahannya Bukan Salah Satu Yang Benar

Tulang Bawang Barat, lampungvisual.com-

Permasalahannya bukan salah satu yang benar. Namun, melihat dari berbagai sudut pandang dan pemikiran. Itulah keunikan dinamika sebuah daerah yang baru berkembang.

Kabut Mendung Matahari seakan tidak memberi ampun pada geliat kehidupan di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba). Rintik tetesan air di musim penghujan terasa dingin menembus kulit. Betapa beruntungnya menemukan sebuah lagunan penampungan air hujan di tengah-tengah bumi ragem sai mangi wawai, seperti melihat danau kembar meski kecil, namun menambah keindahan panorama komplek dunia akhirat.

Miniatur bangunan Masjid Baitusshobur 99 cahaya asmaul husna dan megahnya sesat agung bumi gayo ragem sai mangi wawai, salah satu ikon pembangunan yang menjadi kebanggaan masyarakat Tubaba,”Hidup dikandung adat mati dikandung amal perbuatan,” itulah semboyan pemimpin muda yang mendapat julukan bapak pembangunan Tubaba H. Umar Ahmad, SP.

Kedua bangunan bergandengan itu berhimpun dalam komplek islamic center yang sering disebut bupati Tulang Bawang Barat, H. Umar Ahmad, SP., sebagai komplek dunia akhirat.

Daerah yang memiliki ribuan hamparan kebun karet dan tanaman pangan itu tidak salah jika sang bupati menggunakan semboyan atau motto Nemen, Nedes, Neremo (Nenemo), karena masyarakatnya memang pekerja keras, cerdas, sabar dan tawakkal. Bertenggernya sejumlah bangunan megah itu sebagai simbol kearifan budaya, berdiri kokoh di atas bebatuan, membelah pertigaan ruas jalan utama Tubaba, yang tidak lain adalah tugu rato nago besanding. Bangunan ini menggambarkan sepasang pengantin mengenakan pakaian kebesaran adat Lampung pepadun Tubaba, dengan menunggangi sepasang naga menarik rato kereta kencana. Merupakan gabungan anatomi dari berbagai kekuatan sebagai cermin masyarakat Tubaba dapat melanjutkan cita-citanya maju dan mensejajarkan diri dengan daerah otonomi baru yang lainnya.

Selain komplek islamic center dan tugu rato nago besanding ada juga terdapat bangunan patung wajah Megow Pak, tepatnya di tikungan tajam yang lebih dikenal dengan nama leter S Panaragan. Dulu jalan ini merupakan lintasan tajam yang menyeramkan, setelah berdiri kokoh bangunan tugu relief marga empat Tulang Bawang Barat, fenomenanya berbeda. Yang dulu gelap gulita bak hutan belantara, kini berubah wajah menjadi sudut kota dengan pernik lampu menghiasi bangunan unik itu. Bangunan yang mencerminkan wajah perwakilan tokoh marga empat yakni marga tegamoan, marga buay bulan udik, marga suway umpu, dan marga aji yang dimaksudkan untuk menghormati keluhuran budaya yang harus dijaga dari kepunahannya.

Di tengah-tengah geliat pembanguna ini, muncul berbagai permasalahan kritik dan saran yang tak lain adalah, demi perubahan yang lebih baik. Hal ini disebabkan kebutuhan pangan yang meningkat naik, tuntutan ekonomi yang semakin sulit, dan kebutuhan akan pembagunan perkotaan. Awalnya, pemerintah mengalami kesulitan untuk membendung pertumbuhan arus informasi yang semakin kompleks, namun, dengan semangat kebersamaan antara legislatif dan eksekutif, dengan menggelontorkan APBD Pro Rakyat, akhirnya geliat pembangunan lambat laun dapat terwujud.

Berita-berita miring yang ditujukan kepada pemangku kebikanan kerap dilontarkan, namun tak menggentarkan langkah pemimpin daerah ini mundur, justeru melangkah semakin mantap dengan setumpuk inovasi.

Pertumbuhan ekonomi semakin meningkat setelah pemerintah daerah meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakatnya. Misalnya sektor perdagangan dengan dibangunnya pasar Mulyo Asri dan pasar Daya Murni, menjadikan transaksi jual beli masyarakat berjalan lancar. Bahkan dengan mega proyek kini telah dimulainya pembangunan pasar modern di Tiyuh Pulung Kencana. Jika pembangunan pasar modern telah terwujud bisa dibayangkan wajah Tubaba akan semakin cantik dan sedap dipandang mata.

Namun hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam mengelola pasar modern, karena harus ditangani oleh SDM yang mumpuni dan bukan asal mau, atau asal-asalan. Maka perlunya pemerintah memekarkan Tiyuh Pulung Kencana dan selanjutnya menjadikan kelurahan wilayah sekitar pasar. Mengapa? Karena dengan berubahnya status tiyuh menjadi kelurahan garis komando kebijakan bisa dikendalikan dengan baik.

Satu hal yang sangat menarik pada tahun 2018 mendatang anggaran 40 peresen diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Gagasan brilian H. Umar Ahmad, SP yang akan membangun kota baru di kawasan transmigrasi,  mendapat respon positif dari masyarakat.

Tanggapan tersebut berasal dari tokoh masyarakat H.Khoiri, S.Pd, MM misalnya, dirinya mengapresiasi kemajuan pembangunan di Tulang Bawang Barat ini berjalan begitu cepat. Hal ini dikarenakan harmonisasi antara lembaga wakil rakyat dengan pemerintah daerah sudah tercipta dengan baik.

“Kami sangat mengapresiasi kinerja wakil rakyat kita dan pak bupati kita yang telah memberikan pelayan prima kepada masyarakat dengan berbagai kebijakan pro rakyat,” ujar ketua DPW Forkommantapde Lampung ini.

Dengan keberhasilan yang dicapai maka Tubaba menjadi surga bagi warganya, sehingga diharapkan daerah ini menjadi daerah yang “Baldatun Thoyyibatun Warrabun Ghafur,” yakni masyarakat yang adil dan makmur dan mendapat lindungan serta ampunan dari TuhanNya. Sehingga Tubaba dengan keragaman budaya, adat istiadat dan kultur sosial akan menjadi daerah yang gemah ripah lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo. Amiin..

Penulis : Basri Subur.

5,263 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

About lampung visual.com

Check Also

BRIPKA Sobrun : Sedikit Tanda Cinta Banyak tandanya Ada

Tulangbawang Barat, lampungvisual.com- Peduli akan pembangunan sebuah gedung tempat pendidikan alqur’an (TPA) seorang oknum polisi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: HARGAI KARYA KAMI