Sabtu , November 17 2018
Home / Lampung / Bandar Lampung / Seni Menikmati Sensasi Kemacetan

Seni Menikmati Sensasi Kemacetan

Kota Bandar Lampung, Lampungvisual.com-Seni menikmati sensasi kemacetan disekitaran ruas Jalan Kartini dan Radin Intan. Sebagian mengganggap kemacetan sebagai sesuatu hal yang menyebalkan dimana kendaraan yang dikendarai tidak dapat melaju secara cepat dan maksimal untuk mengejar durasi aktivitas yang terus berjalan dalam hitungan waktu dan tujuan. Kemacetan di Kota Bandar Lampung terutama sekitaran kedua jalan tersebut disinyalir sebagai salah satu masalah yang harus Pemerintah daerah hadapi terutama tentang adanya usulan perluasan jalan serta pembangunan fly over sebagai upaya mengantisipasi bertambahnya jalur kemacetan lainnya. Padahal secara logika, bukan hanya Pemerintah saja yang bertanggung jawab atas peristiwa ini, namun dari konsumtif gaya hidup masyarakat untuk memiliki kendaraan baik beroda dua atau empat tidaklah dapat dibendung dikarenakan “tiap pribadi pastinya memiliki keinginan untuk mencapai apa yang diinginkan” disebut demand of life. Berkaca dari keadaan inilah mencoba untuk mencari sensasi lain dari kemacetan yang kerap kali terjadi bukan hanya di Bandar Lampung saja tapi juga kota-kota lain. Dan, inipun bukan sebuah masalah besar yang harus tertanam dalam rongga kepala “macet bikin bete” istilah anak muda zaman sekarang. Tiap sudut kota memiliki cerita begitupun ruas jalan yang dilalui di sekitaran dua jalur ini. Saya mengganggap dua jalur ini sebagai lingkaran utama sejarah Kota Bandar Lampung di zaman penjajahan dulu (Colonial District Of Japan and Dutch). Lingkaran dimulai ketika memasuki area Stasiun Kereta Api dimana terdapat bangunan-bangunan tua seperti Gereja Katerdal, pertokoan yang disebut Simpur hingga Bambu Kuning serta Hotel Ria. Di lingkaran memutar itulah takluk sejarah bercerita bahwa daerah dan bangunan ini pernah dijadikan tempat penyimpanan logistik terutama di zaman penjajahan Belanda (tepat di hotel Ria sekarang). Jalur-jalur utama yang dibuat diperuntukkan untuk memberi kemudahan dalam pendistribusian logistik antara tentara-tentara Belanda dan Jepang serta dikuasai penuh sebagai daerah kekuasaan penanda kekuatan militer mereka. Bisa dirasakan dari tiap suasana yang ditangkap indera lebih berbeda dari area lainnya. Guratan dinding bangunan yang terkelupas di sepuh waktu tetap berdiri kokoh sebagai sebuah simbol betapa kekuasaan Belanda pernah ada disitu terlihat dari bentuk gaya arsitektur bangunan bergaya Eropa dan sedikit etnik Cina (dianalogikan dengan sejarah Pendudukan Belanda dan Penyebaran Etnik Cina di kawasan Kota Tua Jakarta, Trade Center Of Asia) sebagai awal masuknya jalur perdagangan dan percampuran budaya masa itu kemudian menyebar ke kota-kota lain yang ada di Indonesia. Buat saya menikmati kemacetan di dua jalur ini semakin mengingatkan nuansa dan suasana bahwa ada sejarah yang harus selalu saya kenang dan akan saya ceritakan ke-generasi berikutnya bahwa Jalan Kartini dan Radin Intan itulah bukti awal sejarah tentang sebuah kependudukan Kolonial Belanda yang secara hitungan ekspansi penjajahan paling lama menduduki kekuasaan di Indonesia. Secara sekilas cerita, Jerman pernah datang membantu tentara sekutu namun bukti sejarah belum bisa ditemukan karena sangat singkat kedatangannya entah sempat menduduki kekuasaan ataukah hanya berdiri di belakang persekutuan. Inilah sensasi kenikmatan yang bisa saya rasakan hingga kini tentang sebuah sejarah kota tua yang harus tetap dipertahankan ada di tiap daerah walaupun kemacetan menjadi headline utama; saya menemukan sensasi suasana yang berbeda.

Penulis   : Trudy Ana

Editor    : Basri Subur

135 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

About lampung visual.com

Check Also

Film ‘Keira’ Tampilkan Pesona Alam dan Pariwisata Lampung

Bandar Lampung, lampungvisual.com- Setelah film ‘Trinity, The Nekad Traveler’, pesona keindahan alam dan pariwisata Lampung, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: HARGAI KARYA KAMI